Mengenal Asosiasi Spesies

KOORDERS INSTITUTE – Mengutip pada buku Dasar-Dasar Ekologi Kuantitatif, interaksi antar spesies merupakan titik penting dalam ekologi suatu spesies. Di dalam suatu komunitas tertentu, terdapat sejumlah faktor biotik dan abiotik yang memengaruhi penyebaran, kelimpahan, dan sebagainya termasuk interaksi spesies. 

Interaksi antar spesies dalam penggunaan habitat yang sama ataupun menghindari habitat yang sama menghasilkan suatu pola tertentu yang sering disebut sebagai asosiasi spesies.

Daftar Isi

1. Arti Asosiasi Spesies

Asosiasi spesies merupakan hubungan timbal balik antar spesies didalam suatu komunitas dan dapat digunakan untuk menduga komposisi komunitas (Michael 1994). Menurut Nybakken (1992) ada atau tidaknya asosiasi spesies dalam komunitas dapat menunjukkan tingkat keragaman dalam komunitas tersebut. Mengutip dari buku Dasar-Dasar Ekologi Kuantitatif, tingkat asosiasi spesies yang tinggi akan menunjukkan keragaman spesies yang tinggi pula. 

Interaksi dan asosiasi intra dan inter spesies (afinitas spesies) akan menghasilkan asosiasi spesifik yang polanya sangat ditentukan oleh apakah spesies memilih atau menghindari habitat yang sama, mempunyai daya penolakan atau daya tarik, atau tidak berinteraksi. Asosiasi ini mungkin positif, negatif atau tidak ada interaksi. Menurut Michael (1994), asosiasi positif ditandai dengan kecenderungan spesies selalu ditemukan bersama-sama atau tidak ditemukan bersama dalam setiap petak pengamatan. 

Asosiasi positif cenderung bersifat mutualistik sehingga salah satu spesies tidak merasa dirugikan oleh spesies lainnya, sedangkan asosiasi negatif dapat terjadi karena adanya kompetisi atau persaingan dengan spesies lain terhadap sumberdaya (nutrisi) dan ruang yang sama. Dalam asosiasi negatif, hubungan antara spesies cenderung bersifat merugikan sehingga salah satu spesies akan tertekan.

2. Pendugaan Asosiasi Spesies

Mengutip dari buku Dasar-Dasar Ekologi Kuantitatif, pendugaan asosiasi spesies memiliki implikasi yang penting secara ekologis. Beberapa proses ekologis yang dihasilkan dari asosiasi positif ataupun negatif antar dua spesies seperti disajikan pada Tabel.

Tabel. Proses-proses ekologis dan interaksi spesifik yang dihasilkan dalam asosiasi positif dan negatif antar spesies (Schluter 1984)

Mengutip dari buku Dasar-Dasar Ekologi Kuantitatif, terjadinya asosiasi disebabkan karena di antara spesies-spesies yang membentuk komunitas itu terdapat jalinan fungsional yang dapat melahirkan keterikatan interaktif di antara mereka. 

Keterikatan interaktif ini merupakan daya gabung yang cukup efektif yang dapat membuat beberapa spesies untuk hadir bersama dalam suatu habitat. Beberapa bentuk keterikatan interaktif yang mendorong adanya asosiasi ini adalah symbiosis, protokooperatif, kompetisi, predasi, dan komensalisme (Odum 1971). 

Menurut Kusmana (1995) asosiasi ini terjadi bila: a) Kedua spesies tumbuh pada lingkungan yang serupa, b) Distribusi geografi kedua spesies serupa dan keduanya hidup di daerah yang sama, c) Bila salah satu spesies hidupnya bergantung pada yang lain, d) Bila salah satu spesies menyediakan perlindungan terhadap yang lain.

3. Faktor Terjadinya Asosiasi Spesies

Menurut Swasta (2006) yang dikutip dari buku Dasar-Dasar Ekologi Kuantitatif, terjadinya asosiasi dapat disebabkan oleh dua faktor yaitu:

  1. Faktor internal ini terjadi yang berasal dari komunitas itu sendiri yaitu berkaitan dengan sifat biologi dan ekologi suatu komunitas. Sifat biologis dan sifat ekologis yang bersesuaian dapat menyebabkan beberapa spesies memilih cara dan kebutuhan hidup yang sama sehingga mereka cenderung ada bersamasama dalam suatu habitat. Peluang asosiasi antar spesies sangat ditentukan oleh luas atau sempitnya kisaran berbagai peubah ekologis yang menjadi penentu kehadiran spesies dalam suatu habitat. Semakin luas kisaran peubah ekologis, peluang hadirnya banyak spesies dalam satu corak habitat semakin besar, dan ini berarti peluang adanya asosiasi di antara beberapa spesies menjadi semakin besar pula. 
  2. Faktor eksternal berasal dari habitat suatu komunitas yaitu tingkat kemampuan habitat dalam menyediakan pilihan berbagai kondisi lingkungan dan sumberdaya yang menjadi kebutuhan bagi komunitas.

4. Pengukuran Derajat Asosiasi Spesies

Dalam bagian ini diuraikan suatu metode untuk menentukan keberadaan asosiasi antar spesies serta indeks yang digunakan untuk mengukur derajat asosiasi tersebut. Mengutip pada buku Dasar-Dasar Ekologi Kuantitatif, teknik pengukuran derajat asosiasi didasarkan atas ada atau tidaknya suatu spesies di dalam suatu unit contoh (sampling units = SU). 

Dalam uraian tentang afinitas spesies telah dijelaskan tentang ukuran seberapa sering dua spesies ditemukan dalam suatu lokasi yang sama. Afinitas koeksistensi bagi dua spesies ini merupakan asosiasi interspesifik. Pada umumnya asosiasi antar dua spesies terjadi karena: (1) kedua spesies memilih atau menghindari habitat atau faktor habitat yang sama, (2) kedua spesies pada umumnya mempunyai kebutuhan dan persyaratan lingkungan abiotik dan biotik yang sama, dan (3) salah satu atau kedua spesies memiliki afinitas terhadap yang lainnya, baik atraksi maupun repulsi. 

Studi tentang asosiasi spesies mencakup dua komponen yang berbeda, yakni: (1) uji statistik terhadap hipotesis yang menyatakan kedua spesies saling berasosiasi atau tidak pada tingkat kepercayaan tertentu, dan (2) ukuran derajat atau kekuatan asosiasi antar dua spesies. Kedua cakupan tersebut harus dianggap sebagai karakteristik yang berbeda pada suatu asosiasi.

Referensi Buku

Rahman, Dede Aulia. 2021. Dasar-Dasar Ekologi Kuantitatif. Penerbit IPB Press. Bogor

Referensi Lainnya

  1. Kusmana C. 1995. Manajemen Hutan Mangrove Indonesia. Bogor: IPB Press.
  2. Michael P. 1994. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Lapangan dan Laboratorium. Jakarta, UI Press.
  3. Nybakken JW. 1992. Biologi Laut: Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta. PT. Gramedia
  4. Odum 1971. Dasar-Dasar Ekologi. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada Press.
  5. Schluter D. 1984. A variance test for detecting species associations, with some example applications. Ecology 65 (3): 998
  6. Swasta. 2006. Afinitas spesies pada komunitas endopsamon di zona intertidal dalam kawasan Taman Nasional Bali Barat. Jurnal ilmuilmu perairan dan perikanan Indonesia 13 (2): 89-96

bagikan artikel

Share on facebook
Share on email
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Archives

Categories