Mengenal Kelinci Laut (Nudibranchia)

KOORDERS INSTITUTE – Mengutip dari buku Biodiversitas Nudibranchia Indonesia, terumbu karang beserta makhluk hidup penghuni di dalamnya merupakan salah satu bagian laut yang mengagumkan. Ekosistem terumbu karang sebagai salah satu sumber daya alam yang tak ternilai harganya dan hanya dimiliki oleh beberapa perairan di dunia. 

Terumbu karang beserta biota-biota yang ada di dalamnya, seperti Nudibranchia memiliki peranannya masing–masing dalam memperindah dan menjaga secara alami kondisi ekosistem terumbu karang.

Daftar Isi

Chromodoris magnifica

Nudibranchia tersebar hampir di seluruh dunia mulai dari wilayah tropis hingga antartika sehingga sulit mendapatkan informasi spesifik terkait kondisi perairan (suhu, DO, salinitas, pH) yang optimum untuk hidup maupun pertumbuhannya. Berdasarkan buku Biodiversitas Nudibranchia Indonesia , faktor yang dapat mempengaruhi distribusi Nudibranchia dalam habitatnya adalah kesehatan ekosistem karang, serta ketersediaan dan jenis makanan. 

Nudibranchia (Ordo Nudibranchia) adalah moluska tidak bercangkang anggota dari Subkelas Opisthobranchiata (Kelas Gastropoda) terdiri atas 3.000 spesies yang telah teridentifikasi di dunia dan yang teridentifikasi di kawasan perairan Indonesia sebanyak 59 spesies dan terdiri atas 15 famili. Kelompok hewan laut ini adalah salah satu kelompok yang menarik untuk diamati karena mempunyai warna yang mencolok dan bentuknya bervariasi.

1. Distibusi dan Habitat

Mengutip buku Biodiversitas Nudibranchia Indonesia , Nudibranchia (ordo Nudibranchia) adalah moluska tanpa cangkang, anggota subkelas Opithobranchiata (kelas Gastropoda) (Dayrat 2006). Kelompok terdiri atas 3.000 spesies yang diidentifikasi di seluruh dunia, 2.000 di antaranya dapat ditemukan di kawasan Indo-Pasifik (Gosliner et al. 2008). Sebanyak 59 spesies dengan 15 famili telah teridentifikasi di perairan Indonesia. Kelompok hewan laut ini merupakan salah satu kelompok paling unik yang dapat diamati karena warnanya yang mencolok dan bentuknya yang berbeda (Wägele dan Klussmann Kol 2005). 

Hal ini membuat Nudibranchia menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta fotografi bawah air. Namun, penelitian tentang nudibranch, khususnya biologi, ekologi, dan distribusinya masih sangat terbatas. Secara umum, nudibranch ditemukan di sebagian besar dunia, dari daerah tropis hingga Antartika, namun juga ditemukan dari daerah pasang surut hingga kedalaman laut (Cobb dan Willan 2006). Oleh karena itu, sulit untuk memperoleh informasi spesifik tentang kondisi air yang optimal (suhu, kandungan oksigen, salinitas, dan pH) untuk kehidupan dan pertumbuhan (Rudman 2004). 

Studi telah dilakukan pada nudibranch di Thailand (Chavanich et al. 2013). Kajian tentang nudibranch juga telah dilakukan di Indonesia, misalnya di Teluk Jakarta, Selat Lembeh, Teluk Manado, Laut Maluku, dan beberapa lokasi lainnya (Purba et al. 2013). Dari penelitian yang ditulis oleh Chavanich et al. (2013) ditemukan bahwa Nudibranchia paling banyak ditemukan di area patahan karang (rubble), diikuti dengan area yang berpasir dan berbatu yang berasosiasi dengan organisme sesil. 

Faktor lain yang memengaruhi distribusi Nudibranchia adalah akibat dari agregasi tingkah laku untuk melakukan proses perkawinan atau reproduksi (Hubner 2011). Selain itu, distribusi Nudibranchia dalam habitatnya juga dipengaruhi oleh: 1) ketersediaan makanan, 2) jenis makanan, dan 3) kesehatan ekosistem karang. 

Indikator kesehatan ekosistem karang berdasarkan kutipan buku Biodiversitas Nudibranchia Indonesia, biasanya ditandai dengan persentase tutupan karang. Terumbu karang yang sehat mempunyai tutupan karang lebih dari 30% (gabungan antara karang keras dan karang lunak), penutupan patahan-patahan (rubble), batuan dan pasir yang rendah (Godfrey 2001). Sebagian besar Nudibranchia makan dan hidup dalam asosiasi yang dekat dengan spesies karang (Godfrey 2001). Umumnya, Nudibranchia memakan algae, spons, karang keras dan lunak, bryozoans, serta hydroids (Allen dan Steene 1999). 

Jenis makanan Nudibranchia ini biasanya tersedia di daerah yang memiliki terumbu karang. Nudibranch dalam rantai makanan berperan sebagai predator dan mangsa dengan adaptasi yang berbeda terhadap lingkungan (Debelius 2007). Hewan ini bisa dimakan oleh manusia setelah racun yang terkandung di dalam tubuhnya telah dihilangkan. Orang Chili dan populasi pulau besar di Rusia dan Alaska mengonsumsi Nudibranchia dengan cara dipanggang, dimasak, atau bahkan dimakan mentah (Holland 2008). 

Nudibranch juga berpotensi sebagai antivirus, antikanker, dan antiinflamasi, atau sebagai obat alami (Dean dan Prinsep 2007). Selanjutnya, beberapa antibiotik juga ditemukan pada bakteri yang berasosiasi dengan nudibranch (Böhringer et al. 2017). Hal ini menarik perhatian para peneliti yang mempelajari kandungan kimia nudibranch (Murniasih 2005).

2. Identifikasi Molekular

Mengutip dari buku Biodiversitas Nudibranchia Indonesia, Kelinci Laut (Nudibranchia) merupakan moluska yang tidak bercangkang dengan ordo Nudibranchia dan termasuk anggota dari Subkelas Opisthobranchiata dan Kelas Gastropoda. Dayrat (2006) dan Grande et al. (2004) menyatakan bahwa Nudibranchia terdiri atas 3.000 spesies yang telah teridentifikasi di dunia. 

Ordo Nudibranchia terdiri atas 4 subordo, 66 famili, dan 116 genus. Keempat subordo tersebut, yaitu Dendronotacea (10 famili, 14 genus), Doridacea (26 famili, 56 genus), Aeolidacea (21 famili, 35 genus), dan Arminacea (9 famili, 11 genus). 

Famili Phyllidiidae termasuk ke dalam subordo Doridacea dan terdiri atas enam genus, yaitu Ceratophyllidia, Phyllidiopsis, Phyllidiella, Reticulidia, Fryeria, dan Phyllidia (Brunckhorst 1993: 9–10 dan 89). Yang telah teridentifikasi di Indonesia 59 spesies yang terdiri atas 15 famili. 

Pembagian Nudibranchia, kemudian disempurnakan dengan mengikuti taksonomi yang diungkapkan oleh Thompson & Brown (1976) yang masih digunakan sampai sekarang.

3. Morfologi dan Genetika

Mengutip dari buku Biodiversitas Nudibranchia Indonesia, Kelinci laut (Nudibranchia) memiliki organ respirasi yaitu insang yang muncul seperti jambul pada bagian punggung agak ke belakang (Debelius 2004; Holland 2008). Nudibranchia juga memiliki organ seperti mata mungil yang hanya mampu membedakan antara terang dan gelap sebagai gantinya Nudibranchia menggunakan tonjolan sensor di kepala (rhinophora) dan tentakelnya untuk mencium, mengecap dan merasakan lingkungan. 

Enam genus dari Famili Phyllidiidae dapat dibedakan melalui morfologi eksternalnya, yaitu tentakel oral, warna rhinophora, keberadaan rinotuberkel, lokasi anus, warna mantel, dan ornamentasi notum (permukaan dorsal dari mantel) (Brunckhorst 1993). Tabel menunjukkan perbedaan morfologi eksternal genus-genus tersebut.

Tabel. Perbedaan morfologi eksternal Nudibranchia dari Famili Phyllidiidae (Sumber: Brunckhorst 1993) 

4. Reproduksi

Nudibranchia merupakan salah satu hewan yang memiliki sepasang alat kelamin, yakni jantan dan betina atau disebut dengan hermafrodit (Madduppa et al. 2021). Meskipun demikian, Nudibranchia jarang sekali melakukan pembuahannya sendiri. 

Mengutip dari buku Biodiversitas Nudibranchia Indonesia, dua alat kelamin yang dimilikinya berfungsi untuk memaksimalkan peluang untuk bereproduksi antarsesama Nudibranchia. 

Seperti yang terlihat pada gambar, kedua Nudibranchia mengeluarkan penis dan bertukar sperma satu dengan lainnya. Kemudian, masing-masing Nudibranchia tersebut memiliki telur yang telah dibuahi. 

Mengutip dari buku Biodiversitas Nudibranchia Indonesia, Nudibranchia bereproduksi dengan cara kopulasi. Bagian luar alat kelamin terdiri atas tabung kompleks untuk mengeluarkan autosperma, menerima allosperma, dan tempat meletakkan telur (oviposisi) (Madduppa et al. 2021). Setelah kopulasi, sperma disimpan pada tempat pembentukan telur, hingga akhirnya terjadi fertilisasi (Ellis 1998). 

Telur-telur yang terbentuk dalam jumlah besar dibungkus dengan mukus dalam ukuran, bentuk, dan warna yang bervariasi tergantung jenisnya (Madduppa et al. 2021), namun tidak dilindungi oleh Nudibranchia.

Mengutip dari buku Biodiversitas Nudibranchia Indonesia, meskipun Nudibranchia tidak berperan aktif dalam melindungi telurnya, beberapa spesies ditemukan membekali telur-telurnya dengan zat kimia sehingga telur-telur tersebut dilindungi secara kimiawi (Ellis 1998). Berbeda dengan spesies Rostanga pulchra, spesies Nudibranchia yang bewarna merah ini biasanya melindungi telurnya dengan berkamuflase dengan makhluk lainnya seperti spons yang bewarna merah sehingga seperti tidak terlihat. 

Sementara spesies Hexabranchus sanguineus atau yang dikenal dengan Spanish Dancer menempelkan lem (perekat) pada telur-telurnya hingga berbentuk seperti pita sebagai salah satu cara untuk memberikan perlindungan pada telur. Pada beberapa spesies, telur-telur Nudibranchia dilindungi dengan cara dilingkari oleh Nudibranchia secara individu ataupun berkelompok (Madduppa et al. 2021).

Lihat Video Terkait

Gambar. Siklus Nudibranchia

Mengutip dari buku Biodiversitas Nudibranchia Indonesia, pada umumnya, telur-telur Nudibranchia berbentuk lingkaran spiral mendatar atau bergelung (coiled). Bentuk-bentuk ini memiliki peranan penting dalam membatasi atau menjaga ketersediaan oksigen untuk Nudibranchia. Faktor-faktor lainnya yang juga memengaruhi bentuk dari telur Nudibranchia adalah desifikasi, sinar ultra-violet dan predasi (Rawling 1994). 

Bentuk telur-telur Nudibranchia beraneka ragam tergantung dari jenis spesies dan habitatnya. Misalnya, telur-telur Nudibranchia yang berasal dari Antartika (bersuhu dingin) memiliki ketebalan dua kali lipat dibandingkan dengan telur-telur Nudibranchia di daerah tropis, serta memiliki kandungan oksigen (O2) yang lebih tinggi (Madduppa et al. 2021).

Mengutip dari buku Biodiversitas Nudibranchia Indonesia, telur Nudibranchia biasanya mengandung racun untuk mencegah pemangsanya. Telur-telur ini menempel pada patahan karang atau spons. Akan tetapi, spons tidak memberikan pengaruh terhadap reproduksi, pertumbuhan atau larva Nudibranchia (Madduppa et al. 2021). 

Larva Nudibranchia yang telah menetas kemudian akan berenang bebas hingga umur 140 hari (Madduppa et al. 2021). Masa veliger atau masa berenang bebas bervariasi tergantung jenis Nudibranchia. Lalu Nudibranchia muda tumbuh dengan sepasang tentakel dan dua pasang cerata pada permukaan dorsal

Referensi Buku

Madduppa et al. 2021. Biodiversitas Nudibranchia Indonesia. Penerbit IPB Press. Bogor

Referensi Lainnya

  1. Allen GR, Steene R. 1999. Indo-Pacific Coral Reef Guide. Singapore (SG) : Tropical Reef Research.
  2. Böhringer N, Fisch KM, Schillo D, Bara R, Hertzer C, Grein F, … König GM. 2017. Antimicrobial potential of bacteria associated with marine sea slugs from North Sulawesi, Indonesia. Frontiers in Microbiology 8: 1092.
  3. Brunckhorst DJ. 1993. The systematics and phylogeny of phyllidiid nudibranchs (Doridoidea). Records of the Australian Museum suppl 16: 1–108.
  4. Chavanich S, Viyakarn V, Sanpanich K, Harris LG. 2013. Diversity and occurrence of nudibranchs in Thailand.  Marine Biodiversity  43(1): 31–36.
  5. Cobb G, Willan RC. 2006. Undersea Jewels. A colour guide to nudibranchs. Australian Biological Resources Study, Canberra
  6. Dayrat B. 2006. A Taxonomic Revision Of Paradoris Sea Slugs (Mollusca : Gastropoda : Nudibranchia : Doridina). Zoological Journal Of The Linnaean Society 147(2): 125–238.
  7. Dean LJ, Prinsep MR. 2017. The chemistry and chemical ecology of nudibranchs. Natural product reports, 34(12), 1359-1390.
  8. Debelius H. 2007. Nudibranch And Sea Snails Indo-Pacific Field Guide. Frankfurt (DE): Ikan-Unterwasserarchiv.
  9. Ellis W. 1998. Nudibranchs: Nature’s Paint Box. Wildlife Australia 35(4): 29–32
  10. Godfrey S. 2001. Factors Affecting Nudibranch Diversity in The Wakatobi Marine National Park. [internet]. [diunduh 2013 Nov 29]. Tersedia pada : http://www.opwall.com/…/Invertebrates/Godfrey,%20S%20 Factors%20affecting%20nudibranc8h%20distribution.pdf.
  11. Gosliner TM, Behrens DW, Valdés A. 2008. Indo-Pacific nudibranchs and sea slugs. A field guide to the world’s most diverse fauna. Sea challengers natural history books, Gig Harbor, Washington, and California Academy of Sciences, San Francisco.
  12. Grande C, Templado J, Cervera L, Zardoya R. 2004. Molecular Phylogeny of Euthyneura (Mollusca: Gastropoda). Molecular Biology and Evolution 21(2): 303–13.
  13. Holland JS. 2008 Juni. Warna Warni Kehidupan. National Geographic Indonesia. hlm 80–83.
  14. Hubner G. 2011. Nudibranch Neighbourhood: The Distribution of Two Nudibranch Species (Chromodoris Lochi and Chromodoris sp.) In Cook’s Bay, Mo’orea, French Polynesia.
  15. Murniasih T. 2005. Substansi kimia untuk pertahanan diri dari hewan laut tak bertulang belakang. Oseana 30(2): 19–27.
  16. Purba A, Kusen JD, Mamangkey NGF. 2013. Struktur Komunitas Gastropoda Nudibranchia di Perairan Desa Waleo (Laut Maluku) dan Perairan Desa Kalasey (Teluk Manado, Laut Sulawesi). Journal Aquatic Science & Management 1(1): 21–25.
  17. Rawlings TA. 1994. Encapsulation of eggs by marine gastropods : effect of variation in capsule form on the vulnerability of embryos to predation. Evolution 48(4): 1301–1313.
  18. Rudman WB. 2004. Biogeography. [Internet]. [diunduh 2014 Feb 21]. Tersedia pada : http://www.seaslugforum.net/factsheet/biogeog
  19. Thompson TE, Brown G. 1976. British Opisthobranch Molluscs. London (GB): Acad Press.
  20. Wägele H, Klussmann-Kolb A. 2005. Opistobranchia (Mollusca : Gastropoda) – More Than Just Slimy Slugs. Shell Reduction And Its Implications On Defence And Foraging Frontiers. Zoology 2(3): 1–18.

bagikan artikel

Share on facebook
Share on email
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

One Comment

  1. Sobat Koorders, artikel ini ditulis untuk memberikan wawasan tentang keanekaragaman hayati jenis kelinci laut. Semoga bermanfaat

Leave a Reply to Koorders Cancel

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Archives

Categories